July 2, 2014
I stand on the paws side
June 18, 2014
Jika koko sariawan part 1
Andai saya jadi dokter hewan
Suatu ketika saya pernah bilang, kalau saja setelah SMA dulu saya pilih jurusan kedokteran hewan, mungkin jalan hidup saya berbeda saat ini.
Waktu kecil saya pernah baca buku, Martha si gadis angsa. Saya ingat, bukunya saya baca berulang-ulang. Nah, si cewek ini gemar menggambar dan cintaaaaaa banget dengan hewan. Cita-citanya, tinggal di afrika dan hidup disana bersama gajah dan jerapah. Tapi ibunya nggak suka. Ibunya ingin agar ia menjadi disainer dan tinggal di kota besar. Saya nggak seekstrim si Martha sih walau jujur saya juga pengen tinggal di afrika bersama ........ Maaa...can *nyengir* tapi kecintaan saya pada hewan, tak pernah padam hingga detik ini.
Bagi saya, menjadi dokter hewan itu adalah sebuah pengabdian. It's a passion. Kecintaan. Rasa sayang pada hewan dan empati yang tinggi. Terutama pada pemilik meong yang fakir ini. Hoho..
Pertama kali bertemu dengan dokter Dina ini, ya karena Koko. Masih ingat kan? Koko yang sudah 2 hari tidak makan. Awalnya saya tidak begitu yakin apa dia masih buka praktek. Plang nama di pengkolan jalan itu nampak tua tak terurus. Tapi karena kepepet, akhirnya saya datang juga.
Sebenarnya saya trauma pergi ke dokter hewan. Saya nggak mau lagi ke dokter hewan yang ada di komplek rumah orang kaya itu. Dulu saya kesana karena tak ada lagi dokter hewan di sekitar kampung saya.
Saya tahu, karena takdir-lah mereka pergi mendahului saya. Mpus Tiri yang harus dicaesar dan mpus Juki yang sakit lalu diinfus dan opname.
Tapi yang saya nggak suka adalah mereka sama sekali tak memahami kesulitan saya. Satu-satunya uang belanja kami berikan untuk biaya mereka. Saya tak akan sesedih ini jika saja si dokter menepati janjinya.
Sebelumnya si dokter pernah berjanji, ia akan berikan diskon karena saat itu saya tak mampu membayar biaya sebesar itu. *akhir bulan dan itu satu-satunya uang belanja kami, you know*
Tapi kemudian ia tak mau bertemu saya dengan alasan ada pasien. Saya hanya bengong di depan kasir dengan tagihan ditangan dan jasad mpus juki yang sudah diberi kain kafan.
Atau juga saya tak akan kecewa sedemikian rupa jika saja si dokter memasang tarif yang masuk akal. Saya ingat tahun lalu, waktu itu Jack, Mumun dan Mimin sakit mata. Penyakitnya sama dan diagnosanya sama. Mata mereka kena virus. Obatnya juga sama, salep mata. Tapi si dokter memasang tarif rp 50,000 untuk tiap kucing. Yaolooo.. Saya harus keluarkan rp 150,000 untuk ketiga anak kucing ini.
Ya, kalian bisa saja menuduh saya terlalu subjektif. Tapi ...dok.... Mbok ya jangan terlalu komersil dong ah.
Maka, saya *dan keenam mpus saya* merasa bersyukur telah dipertemukan dengan dokter yang satu ini. Dokter Dina yang tinggal di kampung sebelah. Pertama kali datang membawa Koko ke rumahnya *sekaligus tempat prakteknya* yang ia tanyakan pertama kali adalah :
"Sakit apa deeeek?"
Hah? Koko dipanggil adek. Haha..Lucu juga nih dokter. Lalu Koko diperiksa dengan seksama. Ditimbang, di periksa suhu tubuhnya, diberi obat cacing, diberi obat sirup dan disuntik antibiotik. Koko gitu lho. Yang seumur hidupnya nggak pernah sakit. Dan yang seumur hidupnya nggak pernah kenal dengan jarum suntik. Bahkan Koko yang bandel, ogah minum dan ngumpet di kolong kerja pun ia tunggu dengan sabarnya.
Saya baru tahu ada dokter seperti ini. Aah.. Saya bisa bernapas dengan lega. Saya dan Koko saling berpandangan .......
Dan senyum kami mengembang.
*BTR dinihari 03-07-2014 00.42 wib, nggak biasa tidur, lagi nunggu sahur. Mpus Koko tidur di dalam lemari dan mpus nyit-nyit tidur bergelung di betis saya.
June 17, 2014
sudah bulan juni lagi
Tshirt kunyit dari pulau pramuka
Lingkungannya bersih dan rindang pepohonan. Walau keringat saya terus bercucuran sebesar biji jagung tapi lautnya.... Ya Tuhaaaaaan.... Hanya ada tiga kata-kata bijak yang keluar dari mulut saya. Endah surendah bangeeed. Biru sebiru-birunya dan bening sebening beningnya. Mengundang sekali untuk snorkeling, diving, banana boat, mendayung kayak di laut, melihat penangkaran penyu dan yang pasti di pulau ini saya bisa melihat sunset dan sunrise dengan tenangnya.
April 4, 2014
adoption is like a marriage
adoption is like a marriage
for better or worst, until death do us apart
not just until they scratch your furniture
not just until they are sick
not just until you are bored
not just until you have someone new
(Quote for tudayyyy. :-) ... Taken from fb Steril yuk, while mpus Macan is being 'ngempeng' on my finger. Hello? ) Btr 4-4-2014
April 3, 2014
Kalau Koko lagi kangen
Sudah beberapa hari ini Koko manja bukan main. Siang kemarin, pulang main, sejak dari pagar depan, masuk pintu kucing, masuk ke dapur, dan tiba dihadapan saya. Ia mengeong manja tak berkesudahan. Nadanya syahdu seperti kucing yang terjepit buntutnya dan tak diberi makan tujuh hari tujuh malam. Well, Koko. Saya sedang sibuk. Sahut saya tak lepas dari monitor komputer saya. Lalu Koko mengeluarkan senjata andalannya, duduk di meja, menduduki keyboard dan dengan cueknya mandi kucing tepat depan depan hidung saya. *nangis sesegukan*
Lalu, ketika minta makan. Sudah dua hari ini, Koko bersikap kelaparan ingin makan, tapi setelah mangkuknya disodorkan di depan hidungnya, ia hanya menjilat sedikit lalu melengos pergi atau hanya menggigit kecil makanannya, lalu dengan ekspresi waspada dibawa pergi ke pojokan. Lalu cemberut karena tidak makan.
Oke deh.. Saya mengalah. Ikan cue-nya saya berikan begitu saja tanpa nasi. Dan yang menyebalkan, dia minta disuapin. Iya! Seujung kecil ikan, harus saya sodorkan di depan hidungnya. Baru dia mau makan. Huh! Tidak sopaaaaaaan...!!!!
Tapi tak hanya itu, subuh tadi juga begitu. Ketika saya shalat di kamar depan, entah dari mana tiba tiba.. Buummmm !!! Koko sudah nyengir di depan saya. Dan dengan semena-mena duduk di pangkuan, mandi kucing sebentar... Dan bergelung untuk.... Tedooooooooor..!! Halah ! Dia pikir saya kasur ? Alas tempat tidurnya setelah dugem semalaman ?
Namun, dari semua itu yang paling menghancurkam hati saya adalah kenyataan bahwa Koko (dan semua kucing saya) tak boleh masuk kamar lagi. Ya, ini keputusan terberat dalam hidup saya. Sejak dua bulan terakhir, asma saya kumat lagi. Dua kali masuk UGD dan yang terparah, minggu lalu saya harus opname di rumah sakit.
Maka kamar adalah tempat yang steril bagi mpus-mpus di rumah. Tak ada lagi yang boleh masuk, apalagi tidur disana.
Aaah.. Sedihnya!
Dulu saya masih curi-curi, membiarkan Koko, atau Malih.. Atau kunyit.. Atau siapapun yang ingin tidur di kamar. Malih biasanya lebih suka tidur dilantai di sudut kamar sedangkan tempat favorit Kunyit, ada di selimut di kaki saya. Tapi Koko, hanya Koko seorang eh.. Seekor yang suka tidur di pangkal lengan saya. (To be presice : in my ketek ;p *barangkali disana harum semerbak kali ya? :-) * atau... *ini yang selalu dianggap menjengkelkan oleh suami saya* Ketika Koko memutuskan untuk tidur tepat diantara kami berdua.
Kalaupun pintu kamar sudah tutup, dan Koko -karena satu dan lain hal- terlambat datang. Koko punya satu cara ampuh untuk membangunkan saya dan membuka pintu untuknya. Yaitu dengan : menggaruk-garuk pintu dengan cakar meongnya yang tajam ituuh! can you imagine? Suara pintu beradu kuku yang saya jamin kontan akan membuka kedua mata seketika.
Akhirnya, saya menyadari. Rasanya, dibalik perilakunya yang ajaib itu. Koko ingin menyampaikan sesuatu.
Well, Koko lagi kangen. Hahaha...
Aaah.. Co cuiiiiiit!!!!
(Btr, 09.50wib, ditemani mpus Macan, lagi jemur badan di years depan...nambah stock vitamin D untuk 4 hari ke depan)



