January 3, 2015

Dan kucing garong itu bernama Bawang

Wang, saya nggak tahu namamu. Yang saya tahu, kamu adalah kucing jantan dari gang sebelah, gang bawang namanya. Jadi, kamu saya panggil mpus bawang saja ya? He he he....

Kata satpam, kamu kabur dari rumah. Kamu sekarang lebih senang bermain di komplek kami. Mungkin banyak cewek-cewek kece ya disini.
Berkali-kali pemilikmu datang menjemput, berkali-kali pula kamu kabur dan kembali kesini.

Berbulan-bulan, Wang. Saya mati penasaran. ketika ibu-ibu sedang arisan atau ketika saya lewat pos satpam. Semua menyebar rumor tentang seekor kucing berbulu gondrong, warnanya tabby hitam kecoklatan, yang mondar mandir di blok sebelah.

Lalu saya melihatmu lewat di depan rumah.  Aaah... Wawang, saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Kamu ganteng sekali. *yah.. Nomor sekian lah setelah my hubby n mpus khow-khow ...hihi* tapi momen itu rusak ketika kamu lari terbirit-birit karena dikejar mpus Koko dan mpus kunyit. Huhuhu... Rupanya kamu lewat di daerah kekuasaan mereka. Ah... Patah hati deh.

Berbulan-bulan pula, saya berusaha memancingmu dengan makanan. Semoga kamu lewat dan mau makan pemberian saya. Kadang saya tinggalkan satu mangkuk di luar. Itu untuk kamu, Wang.

Sampai akhirnya, kamu datang dan ikut makan di rumah bersama mpus-mpus yang lain. Kamu malah sudah bisa keluar masuk pintu mpus, tanpa ada yang mengajarimu.

Lama juga ya pedekate saya padamu Wang. Masih berbulan-bulan pula ritual ini kita jalani. Pagi-pagi kamu datang, lalu ikut sarapan. Setelah itu kamu pergi. Begitu setiap hari.

Kamu rakus sekali, Wang. Mungkin karena selama ini makanmu tak teratur seperti dulu. Padahal mangkukmu, sudah saya isi penuh-penuh. Sudah ditambah berulang kali. Tapi perutmu tak pernah kenyang. Kamu malah berusaha merebut mangkuk milik kunyit atau jack.

kalau saya marahi, kamu langsung berguling dan terlentang dan memandang saya penuh harap. Kamu ingin perutmu saya kitik-kitik saat itu juga.

Bagaimana bisa? Kalau lagi diomelin malah bertingkah seperti itu?

Oh ..wawaaang...

Lalu dua minggu yang lalu. Ketika saya baru tiba dari luar kota. Suami saya melapor kalau si Bawang, sudah seminggu ini tinggal di rumah. Anehnya, dia tak mau main lagi ke luar rumah. Ah, mungkin dia lelah.

Akhirnya ya Wang. Kamu memutuskan untuk menjadi kucing rumahan lagi. Apa kamu capek menjadi kucing garong, Wang?

Lalu Wawang segera masuk dan berbaur dengan irama di rumah ini. Ia seperti kucing yang sudah lama tinggal di rumah ini. Punya pojokan tersendiri untuk tidur,  Ikut menyambut kedatangan saya ketika saya tiba di rumah, nongkrong di sebelah ketika duduk di depan komputer, datang menemani ketika saya mencuci baju a tau masak di dapur.

Tapi badanmu kok kurus sekali, Wang. Dan nafsu makanmu, tak seheboh dulu. Kamu masih makan sih. Tapi sedikit. Tidak ada lagi nih drama mengakuisisi mangkuk tetangga :p Susu yang saya buatkan masih kamu minum. Obat penambah nafsu makan, juga masih kamu minum. Target saya waktu itu adalah menggemukkan badanmu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya...hahaha..

Dan dua hari lalu, ketika kami pamit dan pergi keluar kota. Kamu masih baik-baik saja, Wang. Bang Dahlan yang bertugas memberi makan, melapor kalau kamu juga turut makan bersama mpus-mpus yang lain.

Tapi Tuhan sudah punya rencana sendiri, ya Wang. Malam itu, kami pulang sebentar ke rumah. Sebenarnya hanya untuk repack barang Dan berangkat lagi keesokan harinya.

Kamu sengaja menunggu kami. Badanmu sudah terbujur kaku di kamar depan. Nafasmu masih ada. Perlahan dan lemah sekali. Tapi matamu masih berkedip ketika saya memanggil namamu.

Obat dan air minum yang saya suapkan ke mulutmu. Tak satupun yang dapat kau telan. Saya hanya bisa memelukmu Dan mengelus perlahan kepalamu.

Malam itu, ketika tahun berganti, ketika petasan dan kembang api dinyalakan dan ketika terompet ramai ditiupkan. Di kamar depan rasanya sunyi sekali. Hanya terdengar isak tangis saya perlahan dan desir nafasmu yang makin lemah.

Nggak apa-apa, Wang, lalau kamu mau pergi. Pergilah. Hati-hati di jalan ya, jangan nakal ya Waaaang....nggak usah mikirin saya. Makasih ya kamu mau menunggu saya datang. Jangan takut, kamu akan saya temani terus.

Makasih juga kamu mau tinggal di rumah ini. Walau hanya sebentar. Makasih jug a saya diberi kesempatan untuk mengenal kucing garong seperti kamu. Nanti jangan lupa tunggu saya disana ya.. Ah.. Kamu sih pasti langsung masuk surga, sementara saya masih harus berjuang agar bisa masuk surga. Huhuhu...

Dan Bawang mengedipkan mata, walau pelan sekali.

Subuh itu, Bawang pergi.

(Pelabuhan Ratu, 3 Januari 2015; 09:29 pagi @ penginapan, duduk di teras Dan menghadap debur ombak laut selatan yang besar itu. Selamat jalan, Wang. Doaku menyertaimu. )




November 11, 2014

Kalau malih protes

Kemarin malam, kami membawa Malih pergi ke dokter. Dokter hewan yang ada di kampung sebelah.

Akhir-akhir ini Malih makannya sedikit sekali. Dan di leher sebelah kiri, ada benjolan, besaaar sekali. Aduh, saya ngeri. Sering saya lihat di petshop, ada kucing yang sedang diinfus atau opname pasca operasi. Kena kanker katanya.

Suami saya juga begitu. Sama khawatirnya. Dia sih lebih ekstrim lagi. Malah bilang nggak usah dibawa ke dokter deh. Saya rasa, dia juga takut akan menerima kabar buruk lagi. Sama seperti mpus Tiri atau mpus Juki dulu.

Maka, betapa leganya kami berdua ketika dokter bilang si Malih cuma kena bisul. Wkwkwkwk... ! Syukurlaaaah....!

Asalnya sih mau dioperasi kecil. Biar bisulnya kempes. Tapi diperiksa dulu deh, kalau bisulnya sudah matang, bolehlah dilakukan operasi. Lalu bu dokter mengeluarkan jarum suntiknya. Dia mau menyedot sedikit isi benjolan di leher Malih.

Malih ketakutan. Ya Iyalah.. Saya sebagai manusia juga takut sama jarum suntik. Apalagi Malih gitu lho. Apalagi, dia juga bukan termasuk kucing yang gaol seperti Koko atau Jack. Bertemu orang asing adalah hal terberat dalam hidupnya. *hadeh*

Ternyata bisulnya belum matang. Jadi Malih akan diberikan obat saja dan mari kita tunggu bersama hingga bisulnya benar-benar matang. Biasanya benjolannya yang keras itu akan melunak dan pecah dengan sendirinya. Nanti, pe er saya adalah, membantu Malih mengosongkan isi bisulnya itu. Agak horor juga sih. Tapi demi Malih...

Tapi sebelum pulang , Malih akan disuntik vitamin dan antibiotik yaa.... Kata dokter pada Malih. Hah? Di suntik lagiiii?

Malih langsung membuang muka.

Tapi the show muat go on right? Maka tak cukup hanya saya dan suami yang memegang Malih. Dia berontak dengan sekuat-kuatnya. Menjerit dengan sekencang-kencangnya. Dan dokterpun menyuntik Malih secepat kilat yang ia bisa.

Kemudian Malih protes. Setelah di suntik, ia ngumpet masuk ke dalam lemari obatnya dokter dan nggak mau keluar lagi.  Haduuuuuh Maliiiiih...

Nah, pagi tadi, ketika semua kucing sudah selesai sarapan dan beraktifitas sesuai minat dan kreasi masing-masing. Hanya Malih seorang yang tak pulang.

Hmm.. Ini aneh. Nggak biasanya Malih begitu. Maka, setelah urusan rumah selesai, saya pergi ke semak-semak favorit Malih yang ada di pinggir kali. Tuh kaaan...! Malih ada di sana. Lagi ngumpet dan nggak mau keluar walau saya panggil dengan nada mendayu-dayu.

Malih protes dan nggak mau makan obat. Hadeeeh... Malih..Malih.

(BTR 11 November 2014, 10.35 pagi, mendung lhooo.. Enak banget nih narik selimut lagi. Hanya ada Kunyit n Macan yang tidur di kolong meja)

PS :
Akhirnya saya yang mengalah. Saya antar mangkuk makanannya dan saya letakkan di semak-semak dekat persembunyiannya. Tak lama kemudian dia pulang untuk makan dan tidur di kursi tamu. Saya hanya mengawasi dari kejauhan, Begitu saya telpon dan lapor suami, dia bilang , jangan di kasih obat dulu deh, nanti Malih kabur lagi. Iya, deh..setuju.

November 2, 2014

Membelah kepala ayam itu pedih, jenderal!!!

"Sejujurnya nih, Nyit. Agak horor juga membelah kepala ayam untuk kamu."

Iya, kepala ayam mentah, utuh lengkap dengan leher dan lapisann lemaknya. 

"Eeeeng"

Kunyit sih hanya menjawab dengan meong pendek *tuh, buktinya hanya bilang eeeeng :p* Namun kedua bola matanya, hanya tertuju pada kepala ayam itu seorang eh seekor.

"Dan sejujurnya ya Yam" ini kata saya pada alm. Ayam yang ada di tangan *saya sudah gila rupanya hahaha* " maafkan saya ya, karena terpaksa melakukan hal seperti ini"

Lalu ritual yang sama akan kami lakukan berdua *saya dan kunyit tentunya* ini adalah cemilannya. Jadi, setelah sarapan pagi dan semua kucing di rumah ini nongkrong berjemur dan mandi kucing dan hanya menyisakan kami berdua di dapur.

Saya dengan kepala ayam. Dan kunyit dengan .... berlari-lari kecil mengikuti saya. Lalu dengan beralas papan, dan bantuan pisau dan palu, kepala ayam itu saya belah dua. Lehernya saya potong empat atau lima bagian. Dan sedetik kemudian, kunyit sudah mengunyah dengan nikmatnya.

Ah.. Tapi demi kunyit seorang, saya rela kok, seminggu sekali ke pasar buat beli persediaan kepala ayam. Tinggal masuk freezer dan keluarlah kepalanya satu persatu setiap pagi.

Nah, ngomongin soal raw food, ini akan panjang sekali ceritanya. Sama hanya dengan kegemaran Malih akan udang dan  ikan kembung mentah, Koko dengan hati ayam mentah *dan kadang kadang ayam goreng siap saji* dan saya percaya, makanan alami, beli di pasar dan bebas dari bahan pengawet, itu lebih baik buat mereka.

Kalo ada yang penasaran, mendingan beli bukunya aja deh. Tanya presiden dung-dung ya. Tuh.. Isi bukunya lengkap banget.

November 2, 2014 13:05; citayem. Stuck di parkiran mesjid. Mobil nggak bisaa keluat, krn nunggu rombongan tamu manten yang parkir nutupin jalan. Hadweeeehhhh... *nangis guling-guling, meluk tiang mesjid sambil garuk-garuk aspal.

Gimana ? Sudah lengkap kan? Huhuhu......

November 1, 2014

Si penguasa tempat tidur

Seberapa sering makhluk berbulu itu tidur bergelung bersama kalian? Saya sering sekali. Tiap hari malah.  Saya nggak ingat lagi sejak kapan kebiasaan ini timbul. Mungkin sudah lama.  Walau, yeah, ada juga sih saat-saat  di mana saya harus berpisah dengan mereka. Waktu asma saya kumat dan ketika saya pergi ke luar kota. * ya Iya laaah ya :p*

Dari semua meong yang ada di rumah, mpus Koko-lah anggota tetapnya. Yang tepat pukul sembilan malam akan datang dan meong-meong minta dibukakan pintu kamar, lalu mengambil posisi di sisi kiri kasur *itu tempat dimana saya biasa tidur*

Walau sudah dilarang suami, kadang-kadang saya bandel juga. Hahaha.. Maaf ya suamiku tercintah, Gimana ya, kalau nggak ada mereka, rasanya ada yang kurang gitu lho. Kalau ada yang tanya kenapa,  saya akan bilang kalau rasanya menyenangkan sekali, ketika akan tidur, kau tahu ada sesuatu yang berbulu dan hangat sedang medengkur di dekatmu.

Posisi tidur Koko sekarang ada diantara kedua lutut saya. Kalau isengnya kumat, dengan semena-mena ia akan nyelip dan tidur tepat di tengah-tengah diantara kami berdua. Kecuali kalau dia sedang sakit atau lagi manja, biasanya dia tidur melingkar di lengan kiri atau kanan saya. Ya jangan ditanya apa rasanya, yang jelas begitu bangun pagi, separuh lengan saya pegel seperti habis mengangkat barbel semalaman. ..he he he...

Bagaimana dengan yang lain? Sekarang ada mpus jack yang memutuskan untuk tidur bersama kami. Kalau sedetik saja pintu kamar terbuka, maka sepersekian detik pula ia akan melejit dan masuk ke kamar.  Tak peduli, apakah tadi dia sedang mandi kucing atau kebetulan sedang iseng lewat. Kalau sudah begini, Suami saya yang biasanya ngomel-ngomel. Menurut dia, sudah cukup dispensasi satu ekor kucing saja yang akan tidur bersama kami.

Tapi begitu melihat jack yang tertidur pulas di ujung bantal, hatinya luluh seketika.  Kalau Malih lain lagi, kadang, ditengah keributan kami berargumentasi mengenai siapa saja yang boleh tidur di kamar, diam-diam ia menyelinap dan langsung mengambil posisi di kaki kasur. Mandi kucing dan siap-siap tidur. Kalau sudah begitu, suami saya hanya menghela napas panjang dan menegur Malih dan bilang :

" Maliiiiih, kok nggak pake  assalamualaikum dulu"

Bagaimana dengan Macan? Ah.. Selain Kunyit, ABG satu itu nampaknya lebih suka begadang kalau malam. Hanya sesekali saja kalau dia merasa bosan nongkrong di atap dan ingin masuk kamar. Yang paling menyebalkan itu ketika Macan memutuskan untuk masuk diatas jam 2 subuh. Berisik banget gitu lho. Meong panjang ala kucing garong, dimulai dari tangga monyetnya, masuk pintu kucing di dapur dan berjalan hingga menggaruk pintu kamar. Mau nggak mau kan saya jadi bangun dan membuka pintu untuknya.

Tapi dari semua itu, hanya Koko dan *kadang-kadang Kunyit* yang tahan tidur hingga pagi hari. Malah, sering saya lebih dulu bangun dan beraktifitas. Huh dasar pemalas! Yang saya suka dari mereka berdua adalah kalau tidur benar-benar pulas...laaaaas... Jadi saya tak perlu memutus mimpi indah saya hanya untuk membuka pintu bagi meong-meong yang ketika pagi buta bangun dan ingin keluar kamar.

Oh ya, ada satu lagi nih momen bahagia untuk saya, yaitu sekali dua kali ketika suami saya pulang larut malam, lalu saya biarkan pintu kamar terbuka lebaaaaaar.... Maka semua meong akan datang dengan sendirinya.

Iyaaa... Masuk dan datang bersama nyamuk tentunya. Huhuhuhu.... *tears*

*sabtu, 1 November 2014; 11.56 ... Ketika Malih sedang mandi kuciang

October 4, 2014

Kalau saya rindu dengan macan

Kalau saya rindu dengan Macan, apa yang biasanya saya lakukan? Well, saya tinggal meong meong .. Eh.. Berseru-seru memanggil namanya sambil memandang atap rumah. Lho? Kok bisa? Tentu saja bisa. Karena tak lama kemudian, sang Dewa Macan akan turun dari peraduannya. Lalu mengeong manja karena ngantuk dan ingin di gendong.

Bulan ini umur Macan (kira-kira) sudah tepat setahun. Sudah ABG, sudah mulai dewasa. Suaranya membesar dan meong-meongnya sudah mulai mirip kucing garong. Sering ngelayap dan pulang hanya untuk makan lalu tidur ngorok di lantai. Berkali-kali pula kalungnya hilang entah kemana. Kakinya dekil karena debu.

Masih ingat tangga monyet untuk Macan kan? Kini kerjanya bolak-balik naik turun tangga monyetnya. Berjam-jam berkelana di atas atap.  Sepanjang hari.

Entah apa yang ada dipikirannya. Andai saja saya tahu. Pernah sekali saya lihat, pagi itu setelah sarapan, Macan nongkrong di atas atap garasi. Ya cuma duduk manis begitu deh sambil sesekali kepalanya menoleh kesana kemari memperhatikan siapa saja yang lewat. Mulai dari mobil jemputan Anak sekolah, tukang sampah, adek bayi yang lagi di dorong mbak-nya, hingga kucing blok sebelah yang kebetulan melintas depan rumah.

Oh, Macan sudah besar ya. Ah, kadang saya merindukan Macan kecil yang dulu selalu gigih mengejar sapu yang saya pegang,  merobek-robek tissue, menggigit tangan saya dengan gemas, dan sibuk berlari kesana kemari tanpa ada tujuan yang jelas.

Maka, Itulah sebabnya, jika saya rindu dengan Macan, yang saya lakukan sekarang adalah .... memandang atap rumah sambil berseru :

"A Chaaaaan...! A.... Chaaaaaaaan...!"

Hihi... Co cuwiiit sekali toh?

(BTR, 05-10-2014 ; 00:03 yang diomongin baru saja dateng, *dari mana lagi kalo bukan dari atap* makan cemilannya sebentar, lalu tidur di lantai di samping kasur saya. Dan... Haiii.. Selamat Idul Adha ya.. Selamat hari ABRI juga...)

August 15, 2014

super hero KOKO

Dari semua sesembahan yang dibawa kucing kucing ke rumah kami, hanya tikuslah satu-satunya hewan yang mampu membuat saya lari dan ngumpet sejauh-jauhnya. Aduh..Gimana ya, geli bercampur jijik gitu lho. *padahal kan nggak boleh gitu ya, semua makhluk kan sama dimata tuhan...sigh*

Dulu mpus Joni yang rajin nyetor tikus tiap dua hari sekali. Tapi kalau sekarang sih, si kunyit yang hobi mengajak teman miki-nya itu ke rumah. Biasanya, setelah puas diajak bermain di halaman depan, tikus yang sudah setengah pingsan itu dibawanya ke dalam rumah sebagai persembahan dan tanda cintanya untuk saya. Aaaarrrrghhh..kunyiiiit!

Lalu, dengan tidak bertanggung jawab, dead body itu ditinggalkannya begitu saja. Hadeeeeeh...!

Nah, kalau Macan sih lain lagi. Mungkin karena masih ABG, hasil buruannya masih seputar hewan yang kecil, mungil, lucu dan menggemaskan *versi mpus Macan tentunya :p* 

Kadang-kadang, ia pulang membawa kupu-kupu, kodok, belalang dan kadal. Iyaaa.. Kadal. Dikejar kesana kemari, dibawa ke pojok kamar, lalu diajaknya bermain petak umpet. Lalu setelah bosan ditinggalkan begitu saja. Aduh, Gimana nggak serem.  Saya kan nggak mau ketika saya sedang tidur, tiba tiba ada kodok atau kadal yang permisi numpang lewat.

Maka, untuk kasus khusus seperti ini, sesegera mungkin saya lakukan operasi SAR. Search and rescue dong. Untuk kupu-kupu, biasanya saya pasrahkan saja pada yang diatas. Biasanya kondisinya sudah tak bisa diselamatkan, sayapnya rusak parah. Sedangkan belalang, biasanya saya tangkap dan saya lepaskan kembali ke halaman depan.

Nah, untuk kodok dan kadal, saya punya trik khusus nih. Saya ambil sapu dan pengki, lalu dengan tekhnik tertentu *cieeeee..*  saya tangkap *seperti gerakan menyapu lantai sehingga mereka terperangkap di dalam pengki*  dan buru-buru saya lepaskan juga ke halaman depan.

Tapi yang membuat saya kagum adalah kemampuan Koko untuk menangkap burung gereja. Nggak cuma sekali dua kali dia datang membawa mahluk malang itu. Coba bayangkan, bagaimana  bisa Koko menangkap burung  dengan kincring-kincring kalungnya yang berisik itu? Saya rasa, ilmu tingkat tingginya itu didapat dari kesabaran dan ketekunannya berlatih selama bertahun-tahun.

Lalu Apakah setelah itu hidup saya tenang dan tentram saudara-saudara? Aaah... Tidak juga.

Ternyata yang bikin horor itu bukan tikus lagi.... Tetapi ULAR.

Iya, ular! Tahu nggak, sejak kami tinggal di kampung ini, sudah beberapa kali kami mendapat laporan dari tetangga di kanan kiri. Kalau si Koko sering berantem dengan ular. Yah, mungkin itu hanya ular sawah atau ular kali yang tak berbisa. Tapi tetap saja hati saya menciut setiap kali mendengarnya.

Setiap ada rapat RT, ada saja yang melapor kepada suami saya. Bapak-bapak di sini merasa bahagia karena ada Koko, si pembasmi ular. Kini mereka bisa tidur dengan tenang karena anak-anaknya sekarang bisa bermain lagi di depan kali.

Huhuhu...

Saya sih belum pernah melihatnya langsung ya. Tapi, please Koko... Jangan nangkep ular lagi ya...hiks..hiks..

*BTR 15 agustus 2014; 09.40 wib.. Ketika suasananya terasa aman dan damai, doh.. Me time banget nih* oiya, ilustrasi gambar yang super keren ini diciptakan Thre tampilang khusus untuk khow-khow...Maacih ya Yuuuun.. Hug n kiss2 :D


August 5, 2014

Tangga monyet untuk macan

Sejak Macan punya kebiasaan yang satu itu, hidup saya bagaikan di neraka.  Entah darimana ia dapat keahlian barunya. Yang saya tahu, tiba tiba ia sudah nongkrong diatas atap. Kalau sudah nongkrong, yaolooo..bisa berjam-jam. Gedebak-gedebuk kesana kemari, mengawasi kucing kucing komplek yang kebetulan sedang lewat atau malah molor di deket parabol aora kami.

Kalau hanya itu sih, saya tak pernah ambil pusing. Tapi yang paling menyebalkan adalah setelah naik, macan nggak bisa turun lagi. Kalau dia sudah menyatakan selesai main diatas atap dan ingin turun saat itu juga. Maka ia akan melolong, meong meong, menjerit-jerit bagai kucing yang ekornya kejepit pintu sambil dijewer kupingnya lalu dikurung di kamar dan nggak di kasih makan selama seminggu.

Duh.. Saya kan malu sama tetangga. Bisa-bisa mereka pikir, telah terjadi pelanggaran HAK (hak asasi kucing) di rumah ini.

Maka buru-buru saya keluarkan tangga lalu naik dan membantunya turun. Tapi yang bikin saya keki, ketika dijemput, doi malah berkelit dan ngumpet atau menjulurkan kedua kaki depannya *Apalagi kalau bukan untuk* mengajak saya main. Huhuhu.. *nangis sambil garuk-garuk aspal* apa kamu pikir saya adalah mahluk yang paling nggak punya kerjaan sedunia, mpuuuus ? :-((

Dan itu tak hanya sekali dua kali. Dalam setiap satu kali sesi naik ke atas genteng, bisa lima atau enam kali saya harus bolak-balik mengulang ritual yang sama. Hingga akhirnya Macan ngantuk, lelah dan lapar dan kali ini ia benar-benar memutuskan untuk turun. * you see? He decide it by himself, not mine*

Nah, seminggu sebelum lebaran lalu, akhirnya kami putuskan untuk membuat tangga monyet untuk Macan. Iya dong. Kami ingin mudik dengan tenang. Mana bisa kami meninggalkan rumah, kalau kelakuan Macan masih seperti ini. 

 Jadi, hari itu, saya dan suami berbelanja papan, paku beton dan siku besi di toko bahan bangunan. Sketsa kasarnya sudah saya buat. Kami akan membuat papan pijakan sekaligus tempat nongkrong buat mpus-mpus di rumah. Mumpung masih ada waktu, membuat tangga dan mengajari Macan turun sendiri.

Maka, ini lah dia, tangga monyet special untuk Macan. Hanya dua kali latihan simulasi naik ke atas atap, selanjutnya Macan sudah bisa turun sendiri. Aaah.. Senangnyaaaa...! 

*BTR 05-08-2014 ; 10:10 wib, ketika 1,5 jam nongkrong di tempat cuci mobil. Nungguin si Juki mandi salju, setelah mudik seminggu*